Kabupaten Tasikmalaya, Walpisnusantaranews.com – Aroma ketidaktransparanan dalam kebijakan “efisiensi anggaran” kembali menjadi sorotan tajam. Pemerhati politik Tasikmalaya yang akrab disapa Mang Eden menilai kebijakan efisiensi yang kerap dijadikan alasan oleh pemerintah daerah justru menyisakan banyak pertanyaan yang hingga kini belum terjawab secara terbuka kepada publik. Selasa (10/03/2026)
Menurut Mang Eden, istilah efisiensi sebenarnya bukan kebijakan baru. Narasi tersebut sudah mulai digaungkan sejak era pemerintahan Joko Widodo dan kini terus berlanjut pada masa pemerintahan Prabowo Subianto. Namun dalam praktiknya di daerah, terutama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, istilah efisiensi justru sering muncul sebagai alasan klasik ketika pembangunan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Banyak keluhan dari pemerintah daerah sendiri yang mengatakan pembangunan tersendat karena efisiensi anggaran. Tapi anehnya, sampai hari ini masyarakat tidak pernah diberi penjelasan secara resmi berapa sebenarnya hasil efisiensi itu,” ujar Mang Eden dengan nada kritis.
Ia menilai, jika memang efisiensi dilakukan secara serius oleh pemerintah, seharusnya ada laporan terbuka kepada masyarakat mengenai berapa besar anggaran yang berhasil dihemat serta untuk apa dana tersebut digunakan.
“Logikanya sederhana. Kalau ada efisiensi, pasti ada angka penghematan. Nah angka itu harus diumumkan ke publik. Jangan hanya menjadi jargon politik tanpa transparansi,” tegasnya.
Mang Eden bahkan menilai situasi ini terasa janggal. Di satu sisi pemerintah kerap menyebut efisiensi sebagai alasan keterbatasan anggaran, tetapi di sisi lain masyarakat masih melihat sejumlah dinas mengelola anggaran yang sangat besar bahkan terkesan fantastis.
Salah satu yang disorot adalah sektor pendidikan. Menurutnya, publik berhak mengetahui secara jelas bagaimana penggunaan anggaran besar di lingkungan dinas pendidikan, program apa saja yang dibiayai, serta sejauh mana manfaatnya bagi masyarakat.
“Kalau memang ada efisiensi, harus jelas. Dinas mana yang dipangkas? Program apa yang dikurangi? Dan hasil penghematannya dipakai untuk apa? Jangan sampai masyarakat hanya mendengar kata efisiensi, tapi tidak pernah melihat bukti angkanya,” ujarnya.



















