Kabupaten Tasikmalaya, Walpisnusantaranews.com – Suasana pelantikan dan pengukuhan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tanjungjaya masa khidmat 2026–2031 berlangsung penuh semangat. Salah satu pesan yang mencuri perhatian datang dari Ketua Tanfidziyah MWCNU Tanjungjaya, Deni Syukron, SE, yang akrab disapa Mang Eden. Sabtu (08/08/2026)
Di hadapan jajaran pengurus, tamu undangan, unsur Muspika, camat, Polsek, TNI, serta para kader NU, Mang Eden menyampaikan pandangannya tentang alasan mengapa seorang kader harus tetap teguh berada dalam barisan Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, menjadi bagian dari NU bukan sekadar persoalan identitas organisasi, melainkan memiliki akar keilmuan, kebangsaan, dan tanggung jawab sosial yang panjang.
“Kenapa kita harus ber-NU?” ujar Mang Eden mengawali pesannya.
Ia kemudian menyampaikan setidaknya tiga alasan mendasar.
Pertama, menurutnya NU memiliki sanad keilmuan para muassis Nahdlatul Ulama yang bersambung hingga Baginda Rasulullah SAW. Bagi Mang Eden, sanad keilmuan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga tradisi keilmuan dan keberagamaan warga NU.
Kedua, NU dinilainya memiliki hubungan yang kuat dengan kultur dan budaya bangsa Indonesia.
“NU selaras dengan budaya bangsa,” tegasnya.
Ketiga, ia menilai NU mempunyai sejarah panjang dalam ikut merawat persatuan sekaligus mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bagi Mang Eden, tiga hal tersebut menjadi alasan penting bagi kader NU untuk tidak hanya memahami organisasi secara struktural, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai perjuangan NU dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Mang Eden juga menegaskan bahwa jam’iyah Nahdlatul Ulama mempunyai tanggung jawab besar dalam menjaga dan melestarikan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Ia menyebut nilai-nilai Aswaja diwujudkan melalui sikap tawazun, tasamuh, tawasuth, dan i’tidal.
Nilai tawazun mengajarkan keseimbangan, tasamuh menekankan toleransi, tawasuth mengedepankan sikap moderat, sedangkan i’tidal menegaskan pentingnya bersikap adil dan tegak lurus.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut justru harus menjadi karakter kader NU dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, kebangsaan, maupun kebijakan publik.
Namun, ada satu pesan Mang Eden yang disampaikan dengan nada tegas dan mendapat perhatian dari para hadirin.
Ia menegaskan bahwa menjadi Ketua MWCNU bukan berarti dirinya harus berada dalam posisi diam ketika menemukan kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Sebaliknya, ia menyatakan siap menyuarakan kritik apabila terdapat kebijakan yang menurutnya tidak memenuhi harapan rakyat.
“Jangan pernah berpikir, ketika saya menjadi Ketua MWCNU saya diam. Justru saya akan lantang mengatakan dan melawan terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan kepentingan rakyat,” tegas Mang Eden.
Pernyataan tersebut disampaikannya secara terbuka di hadapan para pengurus NU dan tamu undangan dari unsur Muspika, camat, Polsek, hingga TNI.
Sikap Mang Eden memperlihatkan pesan bahwa organisasi keagamaan dan kemasyarakatan tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan internal. Menurut perspektif yang disampaikannya, kader NU juga mempunyai tanggung jawab moral untuk ikut mengawal kehidupan masyarakat.
Kritik terhadap pemerintah, menurut semangat yang ia sampaikan, bukan dimaknai sebagai bentuk permusuhan terhadap pemerintah. Kritik justru ditempatkan sebagai bagian dari kontrol sosial ketika sebuah kebijakan dianggap perlu dikoreksi demi kepentingan masyarakat.
Dengan demikian, NU di bawah kepemimpinan Mang Eden di tingkat MWCNU periode 2026–2031 diproyeksikan tidak hanya menjadi ruang penguatan keagamaan, tetapi juga wadah pengabdian sosial dan kebangsaan.
Pesan yang disampaikan Mang Eden pun menjadi penegasan bahwa loyalitas kepada organisasi tidak harus berarti kehilangan daya kritis. Menjaga tradisi keagamaan, merawat persatuan, dan menghormati pemerintah dapat berjalan beriringan dengan keberanian menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik.
Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, sikap tersebut menjadi penting NU tetap menjaga adab, tetapi tidak kehilangan suara , tetap merawat persatuan, tetapi tidak menutup mata terhadap persoalan rakyat.
Bagi Mang Eden, menjadi kader NU bukan hanya soal memakai identitas organisasi, tetapi tentang bagaimana nilai Aswaja, kebangsaan, keadilan, dan keberpihakan kepada masyarakat benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata.(RY)



















