Sementara itu, Sekretaris DPD, Famos Harefa, menegaskan bahwa kehadiran mereka adalah bentuk tanggung jawab moral, bukan sekadar kegiatan organisasi. Penyerahan bantuan oleh Bendahara Yustina Halawa menjadi simbol bahwa kepedulian harus diwujudkan dalam aksi, bukan retorika.
Bang YD sendiri menegaskan arah gerakan yang ia bangun:
“Gerakan ini adalah rumah bersama. Ketika rakyat sakit, kita hadir. Ketika rakyat berduka, kita tidak boleh absen. Perjuangan itu bukan soal bicara di luar, tetapi sejauh mana kita hadir dan memberi dampak nyata.”
Pernyataan ini menjadi garis tegas yang membedakan antara politik yang sekadar wacana dengan kepemimpinan yang berorientasi tindakan.
Bagi keluarga duka, kehadiran tersebut bukan hanya bantuan, tetapi penguat moral di tengah kehilangan.
“Kami sangat terharu. Kehadiran ini bukan hanya membantu, tetapi menguatkan kami. Ini bukti kepedulian yang tulus,” ungkap keluarga dengan penuh haru.
Di tengah realitas sosial yang sering dipenuhi janji, momen ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik tidak dibangun dari kata-kata, melainkan dari konsistensi tindakan.
Apa yang dilakukan Bang YD hari ini melalui jajarannya mungkin sederhana, datang, mendengar, membantu. Namun dalam lanskap kepemimpinan, justru di situlah letak pembeda: hadir saat rakyat benar-benar membutuhkan. Dan di titik itu, pemimpin yang peduli menemukan makna paling hakiki, melayani.(DZ)



















