“Ulah dugika program jang barudak di jadikeun ladang bisnis ku sabagian pengusaha , mun bener anggarana geude tapi kadaharana siga kieu wajar masyarakat curiga bahwa ieu aya anu teu beres ngelolana. (Jangan sampai program untuk anak-anak dijadikan ladang bisnis oleh segelintir orang. Kalau anggarannya besar tapi makanannya seperti ini, wajar kalau masyarakat curiga ada yang tidak beres dengan pengelolaannya),” tegas seorang tokoh masyarakat setempat.
Kekhawatiran masyarakat semakin menguat karena di sejumlah daerah lain program MBG juga sempat menuai polemik, bahkan dilaporkan adanya ratusan pelajar mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan dari program tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa pengawasan terhadap kualitas makanan dalam program tersebut masih jauh dari memadai.
Masyarakat Desa Cikeusal kini mendesak pemerintah daerah, dinas terkait, hingga aparat penegak hukum untuk segera turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap operasional dapur MBG Satria Pringgondani. Mereka meminta dilakukan audit terbuka terhadap penggunaan anggaran serta evaluasi ketat terhadap standar kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.
“Ini bukan sekadar soal menu sederhana. Ini menyangkut kesehatan anak-anak dan penggunaan uang negara. Jika tidak diawasi serius, program seperti ini bisa berubah menjadi proyek yang hanya menguntungkan segelintir pihak,” ujar warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola dapur MBG Satria Pringgondani maupun instansi terkait di Kabupaten Tasikmalaya belum memberikan klarifikasi resmi. Sikap bungkam tersebut justru semakin mempertebal kecurigaan publik dan memunculkan tuntutan agar pemerintah segera membuka secara transparan bagaimana sebenarnya pengelolaan anggaran program MBG di lapangan.(Red)



















