banner 728x250

Jangan Anggap Sepele Tubuh Mudah Lelah, Dokter RSUD KHZ Musthafa Ungkap Bahaya Anemia

  • Bagikan
banner 468x60

Kabupaten Tasikmalaya, Walpisnusantaranews.com – Mudah lelah, wajah tampak pucat, pusing, hingga jantung berdebar sering kali dianggap sebagai dampak kelelahan setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, apabila keluhan tersebut berlangsung terus-menerus, masyarakat perlu mewaspadainya karena dapat menjadi tanda anemia, yakni kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di bawah batas normal. Minggu (18/10/2026)

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya, dr. Arie Taufik, Sp.PD-KHOM, FINASIM, mengingatkan bahwa anemia bukan semata-mata disebabkan oleh kekurangan zat besi. Kondisi ini dapat berkaitan dengan kekurangan zat gizi tertentu, gangguan pembentukan sel darah merah, perdarahan, hingga kelainan darah yang diturunkan secara genetik.

Example 300x600

Menurut dr. Arie, anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian, termasuk pada kelompok remaja dan dewasa. Ia merujuk data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang menurut keterangannya, menunjukkan angka anemia sekitar 15,5 hingga 32 persen pada kelompok remaja dan dewasa. Angka tersebut perlu dipahami sesuai kelompok usia dan indikator yang digunakan dalam survei.

“Kelainan darah yang paling sering terjadi pada usia remaja dan dewasa adalah kurangnya hemoglobin (Hb) atau kita sebut anemia,” jelas dr. Arie.

Hemoglobin merupakan protein dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke berbagai jaringan tubuh. Ketika kadar hemoglobin menurun, pasokan oksigen ke jaringan dapat terganggu sehingga seseorang mengalami keluhan, seperti tubuh lemas, cepat lelah, dan sulit menjalankan aktivitas seperti biasanya.

Dr. Arie menjelaskan, gejala anemia dapat berupa wajah atau bagian dalam kelopak mata yang tampak pucat, pusing, tubuh terasa lemah, hingga jantung berdebar. Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami sesak napas, gangguan penglihatan, atau penurunan kesadaran apabila kondisinya berat.

Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu menunjukkan anemia. Keluhan serupa dapat muncul akibat berbagai kondisi medis lain sehingga diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan penampilan atau gejala yang dirasakan.

Pemeriksaan darah, terutama untuk mengetahui kadar hemoglobin, menjadi salah satu langkah awal dalam memastikan apakah seseorang mengalami anemia. Dokter kemudian dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebabnya.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menganggap keluhan yang menetap sebagai kelelahan biasa, terlebih jika disertai penurunan kemampuan beraktivitas atau gejala lain yang semakin memburuk.

Salah satu pemahaman yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa semua anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Padahal, menurut dr. Arie, anemia dapat terjadi melalui beberapa mekanisme yang berbeda.

Pertama, tubuh kekurangan zat yang diperlukan untuk membentuk sel darah merah dan hemoglobin, seperti zat besi, vitamin B12, dan asam folat. Kekurangan zat gizi tersebut dapat berkaitan dengan pola makan, gangguan penyerapan nutrisi, maupun kondisi kesehatan tertentu.

Kedua, tubuh mengalami gangguan dalam memproduksi sel darah merah. Sejumlah penyakit yang dapat berkaitan dengan mekanisme ini antara lain anemia aplastik, sindrom mielodisplasia, dan talasemia.

Ketiga, sel darah merah berkurang akibat perdarahan atau penghancuran sel darah merah yang berlangsung lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk menggantikannya. Perdarahan yang berlangsung lama, termasuk yang tidak disadari, dapat menjadi salah satu penyebab anemia.

Perbedaan penyebab tersebut penting dipahami karena penanganan anemia harus disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya. Suplemen zat besi, misalnya, dapat bermanfaat pada anemia akibat kekurangan zat besi, tetapi tidak otomatis menjadi solusi bagi semua jenis anemia.

Penggunaan suplemen tanpa pemeriksaan juga berisiko membuat penyebab utama keluhan terlambat diketahui. Oleh sebab itu, masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menentukan pengobatan.

Selain faktor gizi dan penyakit tertentu, anemia juga dapat berhubungan dengan kelainan genetik yang diwariskan dalam keluarga. Salah satu contohnya adalah talasemia, yaitu kelainan darah yang memengaruhi produksi hemoglobin.

Dr. Arie menekankan pentingnya penelusuran riwayat kesehatan pasien, termasuk kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami kelainan darah atau memiliki riwayat anemia berulang.

Informasi mengenai kondisi orang tua, saudara kandung, maupun anggota keluarga lainnya dapat membantu dokter mempertimbangkan kemungkinan penyakit yang diturunkan secara genetik. Apabila diperlukan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.

Masyarakat yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan darah sebaiknya menyampaikan informasi tersebut saat berkonsultasi. Langkah ini dapat membantu proses evaluasi kesehatan dan penentuan penanganan yang sesuai.

Upaya pencegahan anemia, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan zat gizi, dapat dilakukan dengan menjaga pola makan bergizi seimbang. Asupan makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, dan folat perlu diperhatikan sesuai kebutuhan tubuh.

Namun, pola makan sehat tidak dapat mencegah seluruh jenis anemia, terutama yang disebabkan oleh kelainan genetik, gangguan produksi sel darah, atau penyakit tertentu. Karena itu, pemenuhan gizi perlu disertai kewaspadaan terhadap gejala dan pemeriksaan medis apabila keluhan muncul secara berulang atau menetap.

“Menjaga pola dan jenis makanan yang berimbang adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya anemia. Namun, bila Anda merasakan tanda dan gejala anemia tanpa sebab yang jelas, segeralah periksakan ke dokter penyakit dalam subspesialis hematologi,” pesan dr. Arie.

Ia juga mengingatkan pentingnya tidak mengabaikan kemungkinan perdarahan yang tidak diketahui sumbernya. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan untuk menemukan penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.

Masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, atau penurunan kesadaran. Sementara itu, keluhan mudah lelah, pucat, dan pusing yang berlangsung terus-menerus juga perlu diperiksakan agar tidak terlambat diketahui penyebabnya.

Melalui edukasi dan deteksi dini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa anemia bukan sekadar kondisi yang dapat disimpulkan dari wajah pucat atau tubuh lemas. Di balik gejala yang tampak sederhana, terdapat beragam kemungkinan penyebab yang membutuhkan pemeriksaan berbeda.

Dengan mengenali gejala, memahami faktor risiko, serta mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai, masyarakat dapat mengambil langkah lebih tepat untuk menjaga kesehatan dan mencegah komplikasi akibat anemia yang tidak tertangani.(RY)

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!