banner 728x250

Kirab Hari Santri 2026 di Tasikmalaya, Potret Ulama Sepuh Jadi Simbol Penghormatan dan Pewarisan Sejarah Sukapura

  • Bagikan
banner 468x60

Kabupaten Tasikmalaya, Walpisnusantaranews.com – Ribuan santri dan santriwati dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, memadati jalur kirab peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Mengusung semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap ulama, kegiatan ini tidak sekadar menjadi perayaan tahunan, tetapi juga momentum untuk mengenang jejak perjuangan para tokoh agama yang membangun tradisi keislaman di Tanah Sukapura.

Kirab dimulai dari Helipad Pondok Pesantren Cipasung dan berakhir di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Suasana berlangsung meriah dengan kehadiran Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin dan Wakil Bupati Asep Sopari Alayubi yang memimpin rombongan dengan menunggangi kuda, diikuti para santri yang mengenakan busana khas pesantren.

Example 300x600

Di antara ribuan peserta, barisan santri yang membawa potret para ulama kharismatik menjadi salah satu pemandangan paling menyita perhatian. Potret tersebut bukan sekadar atribut kirab, melainkan simbol penghormatan terhadap para kiai dan tokoh perjuangan yang telah meletakkan fondasi pendidikan Islam serta membentuk karakter masyarakat Tasikmalaya.

Di barisan depan, tampak potret KH Zaenal Musthafa, Pahlawan Nasional sekaligus tokoh penting dalam sejarah perjuangan dan pendidikan Islam di Tasikmalaya. Barisan berikutnya membawa potret para ulama sepuh dari sejumlah pondok pesantren, di antaranya Cipasung, Suryalaya, Miftahul Huda Manonjaya, Sukahideng, Cintawana, Idrisiyyah, Mangunreja, Cikalong, Panca Tengah, hingga Haur Kuning.

Kehadiran potret para ulama tersebut menghadirkan pesan kuat bahwa tradisi pesantren tidak dapat dipisahkan dari sejarah pengabdian para pendahulu. Nilai keilmuan, keteladanan, perjuangan, dan kecintaan terhadap bangsa menjadi warisan yang perlu dijaga oleh generasi santri masa kini.

Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Pontren) Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, H. Fajri Adi Nugraha, mengatakan kirab tahun ini dirancang dengan pendekatan yang menonjolkan nilai sejarah dan penghormatan terhadap ulama.

“Alhamdulillah, ini rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026. Pak Bupati, Pak Wakil, Pak Kemenag, dan instansi lain hadir naik kuda selama kirab. Bersyukur kepada Allah, acaranya meriah dan masyarakat menyambut sangat antusias,” ujar Fajri di lokasi kegiatan, Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, kirab juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat hubungan antarpesantren. Keterlibatan santri dari berbagai wilayah, mulai dari Singaparna, Sukarame, Leuwisari, Padakembang, Culamega, Padawaras, hingga kawasan Tasikmalaya Selatan (Tasela), menunjukkan luasnya jejaring pendidikan pesantren di Kabupaten Tasikmalaya.

Kebersamaan tersebut menjadi salah satu pesan utama Hari Santri Nasional , pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, penguatan persaudaraan, dan penanaman nilai pengabdian kepada masyarakat.

Setelah tiba di Kompleks Perkantoran Pemkab Tasikmalaya, ribuan santri melanjutkan kegiatan dengan melantunkan sholawat bersama. Lantunan tersebut menambah suasana religius sekaligus menegaskan karakter peringatan Hari Santri yang sarat dengan nilai spiritual dan kebersamaan.

Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin menilai kehadiran potret para kiai dan ulama sepuh dalam kirab memiliki makna lebih mendalam daripada sekadar simbol seremoni. Menurutnya, penghormatan terhadap para ulama merupakan bagian dari upaya merawat ingatan kolektif mengenai perjalanan keagamaan dan sosial masyarakat Tasikmalaya.

“Hari ini kita baru saja menyelesaikan giat yang luar biasa bersama para kiai, ulama, dan santri. Di hadapan santri, ada foto para ulama sepuh yang memiliki sejarah panjang berkhidmat di Tanah Sukapura,” kata Cecep.

Ia menegaskan, identitas Tasikmalaya yang lekat dengan sebutan Kota Santri tidak terlepas dari kontribusi para ulama terdahulu. Melalui pendidikan pesantren, dakwah, serta pengabdian kepada masyarakat, para ulama turut membangun fondasi kehidupan keagamaan yang terus berkembang hingga saat ini.

Cecep juga mengingatkan bahwa penghormatan kepada para pendahulu semestinya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Generasi santri perlu meneruskan nilai perjuangan mereka melalui perilaku, pendidikan, dan pengabdian nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini semua sesungguhnya refleksi bahwa tidak mungkin ada kita tanpa sepuh-sepuh kita. Sebagai santri, kita ta’dzim dan memuliakan beliau-beliau. Meskipun sudah wafat, semangat perjuangan beliau yang harus terus kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga warisan ulama bukan hanya dengan mengenang nama dan jasa mereka, melainkan juga meneruskan nilai-nilai yang telah ditanamkan, seperti keikhlasan, kedisiplinan, kepedulian sosial, persatuan, serta komitmen terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kirab Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Tasikmalaya pun menjadi momentum untuk memperkuat ikatan antarpesantren sekaligus meneguhkan kembali peran santri dalam menjaga tradisi keilmuan dan nilai kebangsaan.

Di tengah perubahan zaman, penghormatan terhadap para ulama sepuh mengandung pesan bahwa masa depan pesantren tidak dapat dilepaskan dari sejarahnya. Semangat perjuangan para pendahulu diharapkan tetap hidup melalui generasi santri yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi agama, masyarakat, serta bangsa.(RY)

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!