Kabupaten Tasikmalaya, Walpisnusantaranews.com – Menghadapi potensi fenomena El Niño yang dapat memicu peningkatan suhu udara dan memperpanjang periode kering, UPTD Puskesmas Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai gangguan kesehatan, terutama dehidrasi, diare, penyakit kulit, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Minggu (18/10/2026)
Kepala UPTD Puskesmas Salawu, Wilianto, A.Md., S.KM., M.A.P., mengingatkan bahwa perubahan kondisi cuaca dan kemungkinan terbatasnya ketersediaan air bersih perlu diantisipasi melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pemenuhan kebutuhan cairan tubuh, serta pengelolaan air minum yang aman.
Menurutnya, upaya pencegahan perlu dilakukan sejak dini, baik di lingkungan rumah tangga maupun dalam aktivitas sehari-hari, agar masyarakat tidak mengalami gangguan kesehatan akibat cuaca panas dan menurunnya kualitas lingkungan.
“Perubahan kondisi cuaca perlu kita sikapi dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap kesehatan. Masyarakat hendaknya membiasakan pola hidup bersih dan sehat, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta memastikan air yang dikonsumsi benar-benar aman,” ungkap Wilianto , Kepala UPTD Puskesmas Salawu.
Ia juga mengimbau warga agar tidak mengabaikan gejala awal gangguan kesehatan. Pemeriksaan sejak dini di fasilitas pelayanan kesehatan dinilai penting untuk mencegah kondisi yang lebih berat, khususnya pada kelompok masyarakat yang rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.
Selama periode cuaca panas dan kekeringan, sejumlah gangguan kesehatan perlu diantisipasi. Dehidrasi dapat terjadi ketika cairan yang keluar dari tubuh lebih banyak daripada yang masuk, terutama saat seseorang beraktivitas di bawah terik matahari tanpa asupan cairan yang memadai.
Selain itu, diare juga perlu diwaspadai, khususnya apabila masyarakat menggunakan air yang tercemar atau mengonsumsi makanan yang tidak terjaga kebersihannya. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penularan penyakit melalui makanan dan air.
“Jangan menunggu sampai tubuh terasa sangat haus atau kondisi kesehatan menurun untuk mulai melakukan pencegahan. Biasakan minum secara teratur dan kurangi aktivitas berat ketika suhu udara sedang tinggi. Apabila muncul keluhan yang tidak biasa, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan,” demikian draf kutipan tambahan untuk dikonfirmasi kepada Wilianto.
Gangguan lain yang berpotensi muncul meliputi kelelahan akibat panas (heat exhaustion), sengatan panas (heatstroke), iritasi kulit, serta gangguan pernapasan akibat paparan debu dan kualitas udara yang buruk.
Cuaca panas juga dapat memperberat kondisi orang yang memiliki penyakit tertentu, termasuk gangguan jantung dan ginjal. Karena itu, pencegahan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Ketersediaan air bersih menjadi salah satu aspek penting dalam menghadapi musim kemarau. Namun, masyarakat diingatkan agar tidak hanya memperhatikan jumlah air yang tersedia, melainkan juga memastikan kualitasnya layak digunakan.
Air yang tampak jernih belum tentu bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit maupun bahan pencemar. Masyarakat dianjurkan menggunakan sumber air yang aman dan mengolahnya dengan benar sebelum dikonsumsi.
Untuk air minum, perebusan hingga mendidih sempurna dapat membantu membunuh banyak mikroorganisme penyebab penyakit. Setelah direbus, air perlu disimpan dalam wadah bersih dan tertutup agar tidak kembali terkontaminasi.
Warga juga perlu menjaga kebersihan tempat penampungan air serta menjauhkannya dari septic tank, saluran pembuangan limbah, tumpukan sampah, dan sumber pencemaran lainnya.
Apabila air mengalami perubahan warna, bau, atau rasa yang tidak biasa, masyarakat sebaiknya menghentikan penggunaannya untuk minum dan memasak sampai keamanannya dipastikan.
Puskesmas Salawu mendorong penguatan edukasi kesehatan melalui koordinasi dengan pemerintah desa, kader kesehatan, dan instansi terkait. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami cara pengelolaan air rumah tangga sekaligus mengenali risiko penyakit yang berkaitan dengan sanitasi.
“Kami berharap masyarakat tidak menganggap persoalan air bersih sebagai hal sepele. Menjaga sumber air, kebersihan tempat penyimpanan, dan sanitasi lingkungan merupakan bagian penting dari upaya melindungi kesehatan keluarga,” tambahnya
Untuk mengurangi risiko dehidrasi, masyarakat dianjurkan minum secara teratur, menyesuaikan asupan cairan dengan aktivitas dan kondisi cuaca, serta menghindari pekerjaan fisik berat pada saat suhu udara mencapai puncaknya.
Warga yang harus bekerja di luar ruangan sebaiknya menggunakan pelindung yang sesuai, beristirahat secara berkala di tempat teduh, dan mengurangi paparan langsung sinar matahari.
Adapun pencegahan diare dapat dilakukan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan peralatan makan, mencuci buah dan sayuran menggunakan air yang aman, serta memastikan makanan dimasak dan disimpan dengan benar.
Makanan sebaiknya ditempatkan dalam wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi debu, lalat, dan kotoran lainnya.
Apabila mengalami diare, masyarakat perlu mengganti cairan tubuh yang hilang. Oralit dapat digunakan sesuai petunjuk untuk membantu mencegah dehidrasi. Jika penderita mengalami diare berdarah, muntah terus-menerus, tidak mampu minum, atau menunjukkan tanda dehidrasi berat, pertolongan medis harus segera dicari.
Kebersihan tubuh juga tetap perlu dijaga meskipun persediaan air terbatas. Penggunaan pakaian bersih, longgar, dan menyerap keringat dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan serta risiko iritasi kulit.
Sementara itu, masker dapat digunakan ketika berada di lingkungan berdebu. Penggunaan tabir surya, topi, dan pelindung mata juga dapat membantu mengurangi dampak paparan sinar matahari.
Masyarakat harus mengenali tanda bahaya akibat cuaca panas. Kebingungan, penurunan kesadaran, atau tubuh yang sangat panas setelah terpapar suhu tinggi dapat mengindikasikan sengatan panas dan memerlukan pertolongan darurat.
Bayi dan balita, lanjut usia, ibu hamil, penyandang disabilitas, pekerja luar ruangan, serta penderita penyakit kronis termasuk kelompok yang memerlukan perhatian khusus selama cuaca panas dan periode kekeringan.
Keluarga diimbau memantau kondisi kesehatan anggota keluarga yang rentan, memastikan kebutuhan cairan terpenuhi sesuai kondisi masing-masing, serta menjaga lingkungan tempat tinggal tetap nyaman dan sejuk.
Bagi penderita penyakit jantung atau ginjal yang memiliki pembatasan asupan cairan, penyesuaian kebutuhan minum perlu dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan. Hal ini penting agar upaya mencegah dehidrasi tidak bertentangan dengan penanganan penyakit yang sedang dijalani.
Selain keluarga, kader kesehatan dan perangkat desa diharapkan turut membantu mengidentifikasi warga yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih atau menghadapi hambatan dalam mengakses pelayanan kesehatan.
“Perlindungan kesehatan harus menjadi perhatian bersama. Kami mengajak keluarga, kader kesehatan, dan pemerintah desa untuk ikut memantau kondisi warga yang membutuhkan perhatian lebih, terutama apabila terjadi kesulitan air bersih atau muncul gejala penyakit di lingkungan sekitar,” ingat wilianto
Sebagai langkah antisipasi, Puskesmas Salawu menyebutkan adanya pemantauan laporan penyakit secara berkala, termasuk diare, dehidrasi, penyakit kulit, dan gangguan kesehatan lain yang berpotensi berkaitan dengan kondisi cuaca serta sanitasi lingkungan.
Edukasi kesehatan juga dapat dilakukan melalui Posyandu, kader kesehatan, kegiatan masyarakat di tingkat desa, serta media komunikasi yang tersedia.
Koordinasi dengan pemerintah desa, Dinas Kesehatan, BPBD, dan instansi terkait menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi dampak kekeringan, khususnya apabila terdapat wilayah yang mengalami keterbatasan air bersih.
Kesiapan pelayanan kesehatan juga perlu didukung melalui penanganan awal, mekanisme rujukan, dan respons terhadap kasus yang membutuhkan pertolongan segera.
“Kami mengimbau masyarakat agar segera menghubungi atau mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan. Jika ditemukan peningkatan kasus dengan gejala serupa di suatu wilayah, informasi tersebut perlu disampaikan kepada petugas agar dapat ditindaklanjuti,” tutupnya
Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan dapat mendatangi Puskesmas Induk, Puskesmas Pembantu, atau fasilitas kesehatan terdekat untuk memperoleh pemeriksaan dan konsultasi.
Melalui peningkatan kewaspadaan, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, pemantauan penyakit, serta kerja sama lintas sektor, risiko gangguan kesehatan selama musim kemarau diharapkan dapat ditekan.
Kesiapsiagaan tersebut menjadi semakin penting agar masyarakat mampu menghadapi potensi dampak El Niño tanpa mengabaikan kebutuhan dasar, terutama akses terhadap air bersih, sanitasi yang layak, dan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.(RY)



















